Sapaan dalam Kehidupan Sehari-hari : ilyasweb.com

1. Sapaan dan Ucapan dalam Bahasa Daerah Sunda

1.1 Sapaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Suatu budaya yang ada di dalam masyarakat sunda adalah memberikan sapaan kepada orang yang lebih tua, atau kepada orang yang mempunyai status lebih tinggi. Sebagai contoh, saat melihat orang yang lebih tua, kita harus memberikan sapaan “Bapa” atau “Ibu.” Kemudian, saat bertemu dengan guru, kita memberikan sapaan “Pak Guru” atau “Bu Guru.”

Selain itu, ketika bertemu dengan teman atau kenalan, kita biasanya memberikan sapaan “Mas” atau “Mbak.” Namun, jika sudah dekat, kita bisa memanggil dengan nama panggilan seperti “Ujang” atau “Iyem.”

1.2 Ucapan dalam Acara Formal

Jika kita menghadiri sebuah acara formal, kita sebaiknya memberikan ucapan yang sopan dan menghormati tamu serta acara tersebut. Sebagai contoh, saat memberikan sambutan, kita bisa menggunakan ucapan “Maranehna nu ngiringkeun sareng-sareng hadirin nyaeta….” yang artinya “Kami hadir bersama-sama dengan para hadirin untuk…..”

Selain itu, ketika ingin memberikan ucapan selamat, bisa menggunakan ungkapan seperti “Selamat hatur nuhun ka anjeun…” yang artinya “Selamat atas kesuksesan Anda….”

1.3 Ucapan dalam Acara Non-Formal

Saat berkumpul dengan teman atau keluarga, kita bisa menggunakan ucapan yang lebih santai. Sebagai contoh, kita bisa mengucapkan “Hai adi” kepada adik atau “Halo, ka” kepada kakak.

Jika ingin memberikan selamat ulang tahun, kita bisa mengucapkan “Met ultah” atau “Met milad.” Jangan lupa juga untuk memberikan ucapan “Sareng sampurasun sareng pitulung” pada acara selamatan atau syukuran.

2. Perbedaan Bahasa Daerah Sunda dengan Bahasa Indonesia

2.1 Bunyi Vokal dan Konsonan

Bahasa Sunda memiliki empat bunyi vokal, yaitu a, i, u, dan é. Sedangkan bahasa Indonesia mempunyai lima bunyi vokal, yaitu a, i, u, e, dan o.

Untuk konsonan, bahasa Sunda memiliki beberapa konsonan tambahan yang tidak ada pada bahasa Indonesia, seperti “ng,” “ny,” “m,” “ngg,” dan “n.” Sedangkan bahasa Indonesia hanya memiliki konsonan “ng,” “ny,” dan “m.”

2.2 Tata Bahasa

Tata bahasa bahasa Sunda dan bahasa Indonesia juga memiliki perbedaan. Bahasa Sunda menggunakan sufiks sebagai penanda kata sifat, sedangkan bahasa Indonesia menggunakan awalan.

Contohnya, dalam bahasa Sunda, kata “pinter” bisa ditambahkan sufiks menjadi “pinteran” yang artinya “kepintaran.” Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata “pintar” bisa ditambahkan awalan menjadi “kepintaran.”

2.3 Penggunaan Kata-ganti Orang Kedua

Perbedaan lainnya adalah dalam penggunaan kata-ganti orang kedua. Dalam bahasa Sunda, kata “anjeun” atau “anda” digunakan untuk menyapa orang yang lebih tua atau yang berstatus lebih tinggi. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata “Anda” digunakan untuk menyapa semua orang tanpa memandang status.

Di sisi lain, dalam bahasa Indonesia, kata “kamu” dipakai untuk menyapa teman sebaya atau orang yang berstatus lebih rendah. Sedangkan dalam bahasa Sunda, kata “sia” atau “dik” dipakai untuk menyapa teman sebaya atau saudara yang lebih muda.

3. Keunikan Bahasa Daerah Sunda

3.1 Mengandung Aksen

Bahasa Sunda mempunyai aksen khas yang tidak ada dalam bahasa Indonesia. Aksen tersebut terdengar saat menyebutkan kata-kata tertentu yang menggunakan bunyi “é” atau “eu.” Sebagai contoh, kata “sunda” terdengar seperti “sonda” dengan aksen yang khas.

3.2 Memiliki Dialek

Setiap daerah di Jawa Barat memiliki dialek bahasa Sunda yang berbeda, tergantung dari suku dan wilayahnya. Hal ini menyebabkan beberapa kata bisa berbeda arti atau pengucapannya di setiap daerahnya.

3.3 Memiliki Kosakata yang Kaya

Bahasa Sunda mempunyai kosakata yang kaya dan banyak. Beberapa kata-kata di bahasa Sunda menjadi sangat spesifik dan sulit ditemukan di bahasa Indonesia, seperti “ngamumule basa” yang berarti “menyusun kata” atau “ngakeudeung” yang berarti “menengok ke arah atas.”

4. Peta Penyebaran Bahasa Daerah Sunda

4.1 Peta Penyebaran

Provinsi Persentase Penutur Bahasa Sunda
Jawa Barat 86,81%
DKI Jakarta 2,57%
Banten 2,27%
Jawa Tengah 1,82%
Daerah Istimewa Yogyakarta 1,17%

Sumber: Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia

4.2 Bahasa Daerah Sunda di Luar Negeri

Bahasa Sunda juga dipelajari di luar negeri, terutama oleh para pelajar yang tertarik dengan budaya Indonesia. Bahasa Sunda juga diajarkan di beberapa universitas di luar negeri, seperti di Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat.

5. Bahasa Daerah Sunda dalam Seni Budaya

5.1 Lagu-lagu Daerah Sunda

Bahasa Sunda juga digunakan dalam lagu-lagu daerah Sunda yang sangat terkenal di kalangan masyarakat. Sebagai contoh, lagu “Es Lilin” yang bercerita tentang makanan khas dari Jawa Barat.

Lagu-lagu daerah Sunda juga sering digunakan pada acara-acara tradisional seperti upacara adat, hajatan, dan pertunjukan seni.

5.2 Wayang Golek

Wayang Golek adalah seni pertunjukan yang menggunakan boneka kayu dengan karakter yang khas. Seni ini berasal dari Jawa Barat dan biasanya menggunakan bahasa Sunda dalam dialognya.

5.3 Tari Daerah

Tari daerah juga menjadi bagian dari seni budaya Sunda. Ada beberapa tari daerah yang menggunakan lirik lagu berbahasa Sunda, seperti tari Jaipongan dan tari Topeng Cirebon.

FAQ

1. Apakah Bahasa Daerah Sunda Mendapat Pengakuan Resmi dari Pemerintah?

Ya, Bahasa Daerah Sunda mendapat pengakuan sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia yang mendapat perlindungan dan pengembangan dari pemerintah.

2. Bagaimana Cara Belajar Bahasa Daerah Sunda?

Kamu bisa belajar bahasa daerah Sunda dengan mempelajari kosakata dan tata bahasanya. Kamu bisa mencari buku atau sumber belajar online untuk memudahkan belajar bahasa daerah Sunda.

3. Apa Beda Bahasa Daerah Sunda dengan Bahasa Jawa?

Meskipun sama-sama bahasa daerah di Indonesia, bahasa Sunda dan bahasa Jawa memiliki perbedaan dalam tata bahasa dan pengucapan. Kosakata dan bunyi aksen keduanya juga sangat berbeda.

4. Apa Arti dari Word Sunda?

Word “Sunda” dalam Bahasa Inggris mengacu pada suku bangsa di Indonesia yang menuturkan Bahasa Daerah Sunda.

5. Apa Saja Wilayah Yang Menguasai Bahasa Daerah Sunda?

Bahasa daerah Sunda paling banyak digunakan di wilayah Jawa Barat, seperti Bandung, Cirebon, dan Bogor.

Sumber :